إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًۭا فَتَقَبَّلْ مِنِّيٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“(Ingatlah) ketika istri ‘Imran berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang ada dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi (di Baitul Maqdis), maka terimalah (nadzar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
Surat Ali Imran dinamai «Ali Imran» yang artinya keluarga Imran karena banyak menceritakan keluarga Imran, yang menjadi potret keluarga teladan. Imran adalah orang yang shalih, istrinya juga shalihah, anaknya – yaitu Maryam- juga suci dan shalihah, cucunya yaitu Nabi Isa adalah salah satu Nabi pilihan. Ayat 35 ini menceritakan kisah awal istri Imran Ketika mengandung Maryam. Ada beberapa faedah penting:
📌 Pertama: Pendidikan Dimulai dari Niat Orang Tua
Ibunda Maryam meniatkan anaknya untuk Allah bahkan sebelum lahir. Ini menunjukkan bahwa kesalehan generasi tidak lahir tiba-tiba, tetapi berawal dari visi ruhani orang tua. Anak yang besar dalam doa dan niat yang lurus memiliki pondasi keberkahan sejak awal kehidupannya.
📌 Kedua: Mengutamakan Pengabdian kepada Allah di Atas Dunia
Kata مُحَرَّرًا (dibebaskan) menunjukkan keinginan agar anaknya fokus berkhidmat kepada agama, bukan tersibukkan oleh kepentingan dunia. Ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan pada status atau materi, tetapi pada pengabdian total kepada Allah.
📌 Ketiga: Adab Setelah Beramal: Memohon Diterima
Ucapan فَتَقَبَّلْ مِنِّي mengandung pelajaran besar: orang beriman tidak bergantung pada amalnya, tetapi berharap pada penerimaan dari Allah. Amal tanpa diterima tidak bernilai. Karena itu, setelah beramal, hati seorang mukmin tetap tunduk dan penuh harap.
Sekian, Semoga Bermanfaat.
@ Pondok Pesantren Hubbul Khoir Sukoharjo
Penulis: Dr. Abu Zakariya Sutrisno
Join Grup Whatsapp: Join Now
Artikel Abuzakariyasutrisno.com








