KHUTBAH PERTAMA:
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا ﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران : ١۰٢)
أَمَّا بَعْدُ :
Jama’ah ibadah Jum’ah yang dirahmati oleh Allah,
🔖Yang pertama dan paling utama mari kita selalu besyukur pada Allah. Kita bersyukur atas seluruh nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Mari kita bersyukur dengan sebenar-benarnya, tidak sekedar di lisan saja tetapi bil qolbi wal lisaani wal jawaarih yaitu dengan hati, lisan dan juga amal perbuatan badan kita. Kemudian, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada panutan kita, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak lupa melalui mimbar Jum’at yang mulia ini khatib mengingatkan diri khatib sendiri dan jama’ah sekalian untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Taqwa adalah sebaik-baik bekal di dunia dan apalagi di akhirat nanti.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Kaum muslimin rahimakumullah,
✨ Saat ini kita berada di Bulan Dzulqa’dah dan sebentar lagi datang bulan Dzulhijjah yang mulia, yang mana di dalamnya disyariatkan ibadah haji, sekaligus juga disyariatkan ibadah kurban dan yang lainnya. Pada khutbah yang mulia ini mari sejenak kita renungi kembali terkait ibadah kurban, kita renungi hikmahnya dan kita coba kuatkan tekad semoga kita diberi kemudahan untuk bisa berkurban di tahun ini. Amiena mien ya rabbal ‘alamin. Allah berfirman dalam surat al Kautsar:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah. (QS Al Ashr: 1-2)
Dalam ayat ini Allah mengingatkan Nabi kita Muhammad dan tentu termasuk pula mengingatkan kita sebagai umatnya bahwa Allah telah memberi nikmat yang begitu banyak. Maka Allah perintahkan untuk bersyukur dengan menjalankan ibadah yaitu dengan mendirikan sholat dan juga untuk berkurban. Berkata sebahagian ahli tafsir yang dimaksud dengan berkurban dalam ayat ini adalah menyembelih udhiyah (hewan kurban) yang dilakukan sesudah shalat ‘Ied (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:505 dan Al Mughni 13:360).
Jadi kurban dan ibadah yang lainnya sejatinya adalah bentuk dan manifestasi syukur kita pada Allah. Dengan syariat kurban ini kita dilatih dan diuji oleh Allah mampu tidak kita mensyukuri nikmat Allah. Betul bahwa ketika kita berkurban ada sesuatu yang kita korbankan, ada harta yang kita keluarkan dan mungkin itu berat untuk diri kita. Namun, kalau kita mau renungi sejatinya pemberian Allah atas diri kita itu jauh lebih banyak. Tidak sebanding apa yang kita keluarkan dan korbankan dengan apa yang Allah berikan kepada kita. Kalau kita benar-benar memahami ini kita akan menjadi hamba yang pandai bersyukur. Allah telah memberi kita berbagai nikmat, apakah kita mampu menjadi pribadi yang bersyukur atau malah sebaliknya menjadi pribadi yang kufur.
لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim: 7)
Jama’ah rahimakumullah,
✨ Nikmat Allah atas kita sungguh banyak sekali, mari kita berusaha mensyukurinya. Diantaranya adalah jika kita mampu untuk berkurban maka mari berusaha. Mumpung masih ada kesempatan untuk bersiap-siap mari kita usahakan. Jangan sampai kita bakhil atas karunia yang telah Allah berikan kita. Saya kira kita sudah sering mendengar kisah-kisah yang luar biasa terkait kurban. Ada orang yang ekonominya pas-pasan ternyata mampu rutin tiap tahun kurban. Bahkan ada ada kisah juga orang yang kesehariannya cuma pemulung ternyata mampu berkurban. Bahkan ada yang kurban sapi!!! Disisi lain, banyak orang yang ekonominya mapan, bahkan kaya raya tapi hatinya miskin, merasa miskin tidak mampu untuk berkurban. Naudzubillah. Jangan sampai kita termasuk orang seperti itu. Hati-hati kufur dengan nikmat Allah. Sebagaimana Allah ancam dalam surat Ibrahim diatas,
وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim: 7).
Jama’ah rahimakumullah,
🐏 Kurban ibadah yang agung dan sangat ditekankan dalam islam (sunnah muakkadah). Bahkan sebagian ulama’ mengatakan wajib, seperti Rabi’ah, Al Laits bin Sa’ad, Al Awza’i, Ats Tsauri dan lainnya. Namun yang rajih adalah tidak sampai wajib tetapi sunnah muakkadah sebagaimana ini menjadi pendapat jumhur (mayoritas ulama’), syafiiyah, hambali dan lainnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rizki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah no. 3123. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Hadits ini berisi ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang mampu berkurban tapi enggan untuk berkurban. Rasulullah larang untuk mendekati tempat sholat (maksudnya adalah sholat iedhul adha) kalau mereka mampu tapi enggan untuk ikut berkurban. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang terkena ancaman Rasulullah ini. Mari sekali lagi, mumpung masih ada waktu untuk bersiap-siap, kita berusaha untuk bisa berkurban. Sekian semoga bermanfaat khutbah yang pertama ini.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
KHUTBAH KEDUA:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Jama’ah ibadah Jum’ah yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala
Allah mensyariatkan kurban bukan karena Allah butuh daging dari Kurban kita, bukan!! Allah hanya ingin menguji ketaqwaan kita.
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS Al Hajj: 37)
Berkurban adalah ajang membuktikan taqwa kita pada Allah. Sebagian orang mungkin merasa telah beriman dan bertaqwa pada Allah. Namun ketika benar-benar diuji kenyataan jauh dari seperti itu. Karena kecintaan yang berlebih terhadap harta, sebagian orang menjadi berat hati untuk berkurban meskipun sekedar dengan seekor kambing. Hatinya merasa berat untuk mengeluarkan harta yang dimilikinya untuk menjalankan perintah Allah. Cintanya pada harta mengalahkan cintanya pada perintah Allah. Cintanya pada harta membuat hatinya tidak tergerak untuk berkurban, berbagi dengan sesama. Disaat orang lain dengan mudahnya berkurban (bahkan mungkin yang kemampuan ekonominya jauh dibawah dirinya) tetapi dirinya ternyata sulit untuk melakukan. Disinilah ketaqwaan dipertanyakan. Mari kita buktikan bahwa kita benar-benar pribadi yang bertaqwa. Kalau kita termasuk orang-orang yang diberi kelonggaran harta oleh Allah maka mari berusaha berkurban.
Demikian khutbah yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat. Semoga bisa menguatkan dan memotivasi diri kita untuk berkurban. Amien. Mari kita tutup khutbah ini dengan sholawat dan doa.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ
@ Pondok Pesantren Hubbul Khoir Sukoharjo
Penyusun: Dr. Abu Zakariya Sutrisno (Pengasuh PP Hubbul Khoir Sukoharjo, Dosen UNS, Alumni S3 KSU Saudi).
Kamis Ba’da Isya’, 7 Dzulqo’dah 1447H / 24 April 2026
Join Grup Whatsapp: Join Now
Artikel Abuzakariyasutrisno.com







