أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”
📌 Pertama: Perintah untuk Mentadabburi Al-Qur’an
Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga ditadabburi, yaitu direnungi maknanya, dipahami petunjuknya, dan diamalkan dalam kehidupan. Tadabbur menjadikan Al-Qur’an benar-benar berfungsi sebagai petunjuk hidup. Syaikh Sa’di menjelaskan makna tadabbur adalah: «merenungkan maknanya, memusatkan pikiran kita padanya, prinsip-prinsipnya, konsekuensinya, dan implikasinya».
📌 Kedua: Al-Qur’an Sempurna, Tidak Mengandung Pertentangan
Allah menegaskan bahwa jika Al-Qur’an berasal dari manusia, pasti akan ditemukan banyak pertentangan (اختلاف كثير) di dalamnya. Namun karena Al-Qur’an berasal dari Allah, maka seluruh ayatnya selaras, saling menguatkan, dan tidak mengandung kontradiksi. Karena al Qur’an begitu sempurna mustahil itu karangan manusia. Beda dengan karangan manusia sering kita dapati yang penuh kesalahan, perlu direvisi berkali-kali, itupun masih ada yang salah lagi. Karangan manusia juga sering tidak sesuai perkembangan zaman atau fakta sains/ilmu pengetahuan terbaru.
📌 Ketiga: Tadabbur Menguatkan Keimanan terhadap Wahyu
Ketika seseorang mentadabburi Al-Qur’an, ia akan melihat keserasian makna, kedalaman hikmah, dan kesempurnaan petunjuknya. Hal ini semakin meneguhkan keyakinan bahwa Al-Qur’an benar-benar wahyu dari Allah.
Sekian, Semoga bermanfaat.
@ Pondok Pesantren Hubbul Khoir Sukoharjo
Penulis: Dr. Abu Zakariya Sutrisno
Join Grup Whatsapp: Join Now
Artikel Abuzakariyasutrisno.com








