يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”
Diantara faedah penting dari ayat ni:
📌 Pertama: Hikmah adalah karunia ilahi yang luar biasa
Hikmah bukan sekadar kecerdasan atau banyaknya informasi. Ia adalah taufik dari Allah untuk: memahami kebenaran, menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan mengambil keputusan dengan tepat. Syaikh Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hikmah adalah: «Ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan pemahaman akan rahasia serta hikmah dari syariat (hukum-hukum Islam).» Ilmu tanpa hikmah bisa menimbulkan kesombongan bahkan keserakahan. Adapun ilmu yang disertai hikmah melahirkan ketundukan dan kemaslahatan.
📌 Kedua: Hikmah disebut “kebaikan yang sangat banyak”
Allah menyebutnya kebaikan yang banyak (خَيْرًا كَثِيرًا), karena hikmah: menjaga seseorang dari kesalahan besar, membimbing dalam memilih prioritas, menenangkan dalam menghadapi ujian, mengarahkan harta, kekuasaan, dan ilmu pada kebaikan. Satu keputusan yang berhikmah bisa menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat.
📌 Ketiga: Hikmah hanya tumbuh pada hati yang bersih dan berakal
Penutup ayat (وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ): Ulul albab adalah orang yang: akalnya jernih, hatinya tidak dikuasai hawa nafsu, mau menerima nasihat. Hikmah tidak sekadar soal kecerdasan, tetapi tentang ketakwaan dan kedewasaan jiwa.
Sekian Semoga Bermanfaat.
@ Pondok Pesantren Hubbul Khoir Sukoharjo
Penulis: Dr. Abu Zakariya Sutrisno
Join Grup Whatsapp: Join Now
Artikel Abuzakariyasutrisno.com








