يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Allah menciptakan pasangannya; dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekerabatan. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.”
Ayat ini berisi wasiat untuk bertakwa kepada Allah dan termasuk ayat yang sering dibaca dalam khutbah hājah. Dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud, disebutkan bahwa Nabi ﷺ ketika berkhutbah memulai dengan pujian kepada Allah, kemudian membaca ayat-ayat yang berisi wasiat takwa, yaitu QS Ali ‘Imran: 102, QS An-Nisa’: 1, dan QS Al-Ahzab: 70–71 (HR. Abu Dawud). Berikut ini diantara faedah penting kandungan ayat ini:
📌 Pertama: Takwa sebagai Fondasi Kehidupan Manusia
Ayat ini dibuka dengan perintah اتَّقُوا رَبَّكُم dan diulang lagi dengan وَاتَّقُوا اللَّهَ. Pengulangan ini menunjukkan bahwa takwa adalah fondasi utama dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam hubungan dengan Allah maupun hubungan antar manusia. Artinya, segala urusan sosial—termasuk keluarga, hak manusia, dan muamalah—harus dibangun di atas takwa kepada Allah.
📌 Kedua: Kesatuan Asal Usul Manusia Menumbuhkan Persaudaraan
Allah menyebut bahwa manusia diciptakan dari نَفْسٍ وَاحِدَةٍ (satu jiwa), yaitu Nabi Adam, kemudian dari dirinya Allah menciptakan pasangannya dan menyebarkan manusia di muka bumi. Ini mengandung pelajaran bahwa seluruh manusia memiliki asal yang sama, sehingga tidak ada alasan untuk kesombongan ras, suku, atau status sosial. Kesadaran ini menjadi dasar bagi persaudaraan kemanusiaan dan keadilan sosial dalam Islam.
📌 Ketiga: Menjaga Silaturahmi dan Merasa Diawasi Allah
Allah memerintahkan menjaga الأرحام (hubungan kekerabatan) dan menutup ayat dengan إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (Allah selalu mengawasi kalian). Ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan keluarga bukan sekadar etika sosial, tetapi ibadah yang diawasi langsung oleh Allah. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi akan membuat seorang muslim berhati-hati dalam memperlakukan sesama manusia, terutama kerabatnya.
@ Pondok Pesantren Hubbul Khoir Sukoharjo
Penulis: Dr. Abu Zakariya Sutrisno
Join Grup Whatsapp: Join Now
Artikel Abuzakariyasutrisno.com








