فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau (wahai Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka, mohonkan ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
Ada beberapa pelajaran menarik dari ayat ini terutama terkait dakwah dan membina umat:
📌 Pertama: Dakwah dengan Lemah Lembut adalah Rahmat Allah
Allah menyebut kelembutan Nabi ﷺ sebagai rahmat dari Allah. Dalam dakwah, kelembutan bukan tanda kelemahan, tetapi justru metode yang diajarkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Nabi ﷺ adalah manusia paling sempurna akhlaknya, dan beliau berdakwah dengan penuh kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang. Ini salah satu yang menjadi kunci sukses dakwah beliau yang perlu kita teladani.
📌 Kedua: Kekasaran Menjauhkan Manusia dari Dakwah
Walaupun yang disampaikan adalah kebenaran, jika disampaikan dengan kasar dan keras, orang bisa menjauh dari dakwah. Karena itu para ulama menegaskan: kelembutan adalah kunci diterimanya dakwah. Hati-hati dakwah dengan keras apalagi kasar. Ketegasan itu penting, tetapi perlu dibalut dengan kelembutan.
📌 Ketiga: Tiga Sikap Penting dalam Membina Manusia
Dalam ayat ini Allah menyebut tiga sikap penting Nabi dalam membina umat:
| فَاعْفُ عَنْهُمْ | Maafkan Mereka |
| وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ | mohonkan ampun untuk mereka |
| وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ | bermusyawarah dengan mereka |
Faedahnya yaitu seorang dai, guru, atau pemimpin harus memiliki hati yang lapang: memaafkan kesalahan, mendoakan kebaikan, dan melibatkan orang lain dalam musyawarah.
📌 Keempat: Musyawarah adalah Prinsip Kepemimpinan
Walaupun Nabi ﷺ menerima wahyu, beliau tetap diperintahkan untuk bermusyawarah dengan para sahabat. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kepemimpinan yang bijak, partisipatif, dan menghargai pendapat orang lain.
📌 Kelima: Menggabungkan Ikhtiar dan Tawakal
Di akhir ayat Allah berfirman: ”Jika engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” Faedahnya yaitu seorang mukmin harus menggabungkan usaha yang maksimal dengan tawakal kepada Allah.
Sekian, Semoga Bermanfaat.
@ Pondok Pesantren Hubbul Khoir Sukoharjo
Penulis: Dr. Abu Zakariya Sutrisno
Join Grup Whatsapp: Join Now
Artikel Abuzakariyasutrisno.com








