مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif (lurus) lagi muslim, dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik.”
Ayat ini menegaskan bahwa agama para Nabi dan Rasul, termasuk Nabi Ibrahim, sama yaitu Islam. Diantara faedah penting dari ayat ini:
📌 Pertama: Islam Adalah Agama Tauhid Sejak Dahulu
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Ibrahim bukan pengikut agama Yahudi atau Nasrani, karena kedua agama itu datang setelah beliau. Ibrahim adalah muslim, yaitu orang yang berserah diri kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa agama para nabi adalah satu: tauhid.
📌 Kedua: Makna Hanif: Lurus dan Menjauhi Syirik
Kata حَنِيفًا berarti condong kepada kebenaran dan berpaling dari kesyirikan. Hanif bukan sekadar percaya kepada Allah, tetapi meninggalkan seluruh bentuk syirik, baik besar maupun kecil.
📌 Ketiga: Identitas Sejati Bukan Label, Tetapi Tauhid
Ayat ini juga membantah klaim Ahlul Kitab yang mengaku mengikuti Ibrahim. Mengikuti Ibrahim bukan soal nasab atau klaim sejarah, tetapi mengikuti tauhidnya.
📌 Keempat: Islam Bukan Agama Baru
Islam bukan agama yang muncul di zaman Nabi Muhammad ﷺ saja, tetapi agama seluruh nabi sejak dahulu — agama kepasrahan kepada Allah.
📌 Kelima: Tauhid Adalah Inti Keselamatan
Penutup ayat: وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Menunjukkan bahwa keselamatan hanya dengan tauhid dan menjauhi syirik.
Semoga Allah Menjadikan Kita Sebagai Orang-orang yang dan Muslim Sejati
Sekian, Semoga bermanfaat.
@ Pondok Pesantren Hubbul Khoir Sukoharjo
Penulis: Dr. Abu Zakariya Sutrisno
Join Grup Whatsapp: Join Now
Artikel Abuzakariyasutrisno.com








