وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah Allah turunkan,’ mereka menjawab: ‘Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan tetap mengikuti juga, meskipun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?”
Diantara faedah penting ayat ini:
📌 Pertama: Wahyu adalah sumber kebenaran tertinggi
Perintah ﴿اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ﴾ menegaskan bahwa standar kebenaran dalam agama adalah apa yang Allah turunkan, bukan kebiasaan manusia. Jangan menolak wahyu atau perintah Allah karena alasan fanatisme tradisi atau yang lainnya.
📌 Kedua: Fanatik pada tradisi bisa menjadi penghalang hidayah
Jawaban ﴿بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا﴾ menunjukkan bahwa fanatisme tradisi dapat membuat seseorang menolak kebenaran meski telah jelas.
📌 Ketiga: Taqlid buta adalah bentuk penyimpangan
Ayat ini mencela sikap mengikuti leluhur tanpa ilmu dan dalil, karena kebenaran tidak diwariskan, tetapi dipelajari dan diimani. Ayat ini mengajarkan bahwa keselamatan agama hanya diraih dengan mendahulukan wahyu dari Allah di atas adat, budaya, dan kebiasaan turun-temurun.
📌 Keempat: Banyak tradisi tidak dibangun di atas akal dan hidayah
Penegasan ﴿لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ﴾ menunjukkan bahwa tidak semua warisan leluhur benar; sebagian justru tanpa dasar ilmu dan petunjuk.
📌 Kelima: Agama dibangun di atas dalil, bukan kebiasaan semata
Ayat ini menegaskan bahwa agama Islam berdiri di atas dalil dan petunjuk, bukan adat, budaya, atau warisan turun-temurun yang menyelisihi kebenaran.
Sekian, Semoga Bermanfaat
@ Pondok Pesantren Hubbul Khoir Sukoharjo
Penulis: Dr. Abu Zakariya Sutrisno
Join Grup Whatsapp: Join Now
Artikel Abuzakariyasutrisno.com








