إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka mengetahui bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. Tetapi orang-orang kafir berkata, ‘Apakah maksud Allah dengan perumpamaan ini?’ Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”
Banyak faedah bisa diambil dari ayat ini, diantaranya:
📌 Pertama: Kebenaran tidak diukur dari besar–kecilnya contoh
Allah tidak malu membuat perumpamaan dengan makhluk yang sangat kecil seperti nyamuk. Faedah: Kebenaran tidak bergantung pada keagungan objek, tetapi pada hikmah dan pesan di baliknya. Orang yang meremehkan kebenaran karena contoh yang sederhana menunjukkan kesombongan akal.
Kalau direnungi, makhluk yang seolah remeh dan sederhana seperti nyamuk sebenarnya menunjukkan hal yang luar biasa. Meski kecil, nyamuk memiliki sistem hidup yang kompleks dan alat indera yang luar biasa. Makhluk yang dianggap remeh justru menjadi bukti kekuasaan Allah. Ini mengajarkan bahwa keagungan Allah tampak pada yang besar maupun yang kecil.
📌 Kedua: Al-Qur’an menguji kejujuran hati manusia
Ayat ini menjelaskan bahwa ayat yang sama menghasilkan dua respons: Orang beriman: yakin itu kebenaran dari Rabb-nya; Orang kafir: mempertanyakan dan mengejek. Faedah: Al-Qur’an bukan sekadar informasi, tetapi alat uji hati—siapa yang jujur akan mendapat hidayah, siapa yang sombong akan semakin jauh.
📌 Ketiga: Hidayah dan kesesatan bergantung pada sikap manusia
Allah menyebutkan: “Dengan itu Allah memberi petunjuk banyak orang dan menyesatkan banyak orang.” Namun ditegaskan «Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.» (وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ): Faedah: Allah tidak menyesatkan orang yang lurus, tetapi kefasikan yang menjadi sebab utama tersesatnya seseorang
📌 Keempat: Bahaya mempertanyakan wahyu dengan sikap meremehkan
Ucapan “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” bukan pertanyaan ilmiah, tetapi sindiran dan penolakan. Faedah: Bertanya untuk memahami → terpuji; Namun kalau banyak bertanya untuk meremehkan wahyu → tanda kesesatan.
📌 Kelima: Pelajaran dakwah dan tarbiyah
Allah menggunakan perumpamaan sederhana agar kebenaran mudah dipahami semua kalangan. Faedah: Dakwah tidak harus selalu dengan bahasa tinggi. Yang penting jelas, benar, dan menyentuh hati. Bisa disertai dengan contoh-contoh sederhana.
Sekian, Semoga Bermanfaat
—
🖋️ Penyusun: Dr Abu Zakariya Sutrisno
📱 Follow Channel WA: https://s.id/DrAbuZakariyaSutrisno
✅ Silahkan share, ikut sebarkan kebaikan









