وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ ۚ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah dua anak Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satu dari mereka dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: ‘Aku pasti akan membunuhmu!’ Yang lain berkata: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’”
Disebutkan oleh beberapa ahli tafsir, diantaranya Ibnu Katsir, dua anak Adam ini adalah Habil dan Qabil. Habil mempersembahkan kurban berupa hewan ternak terbaik (domba/kambing), sedangkan Qabil dari hasil pertanian yang buruk sehingga tidak diterima, lalu timbul hasad yang mendorongnya membunuh saudaranya. Disebutkan pula bahwa salah satu pemicu kedengkian itu berkaitan dengan urusan pernikahan (Qabil tidak ridha terhadap ketentuan pasangan yang ditetapkan), sehingga kisah ini menunjukkan bahwa hasad, baik dalam ibadah maupun urusan dunia seperti nikah, dapat menyeret seseorang kepada dosa besar jika tidak diatasi dengan takwa.
Diantara faedah penting dari ayat ini:
📌 Pertama: Amal ibadah tidak otomatis diterima
Kedua-duanya berkurban, tetapi hasilnya berbeda. Ini menegaskan: ibadah ≠ pasti diterima, yang menentukan adalah takwa. Standar penerimaan amal adalah takwa, bukan tampilan ( “إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ”). Ikhlas, niat, dan hati jauh lebih penting daripada sekadar pelaksanaan lahiriah.
📌 Kedua: Hasad bisa muncul bahkan dalam ibadah
Dalam kisah ini masalahnya bukan duniawi semata, tapi kurban (ibadah). Ketika amal orang lain diterima, muncul iri → berubah jadi kebencian. Ini peringatan keras: Hasad tidak hanya di harta, tapi juga dalam ketaatan.
📌 Ketiga: Hasad adalah pintu menuju dosa besar
Dari iri jadi ancaman kemudia terjadi pembunuhan. Dosa pertama pembunuhan dalam sejarah manusia diawali dari hasad. Ini menunjukkan: hasad bukan dosa kecil, tapi akar kehancuran.
📌 Keempat: Solusi dari hasad adalah memperbaiki diri, bukan menjatuhkan orang lain
Jawaban saudaranya: fokus pada takwa, bukan membalas. Seharusnya ketika amal orang lain diterima: Kita introspeksi, bukan iri atau menjatuhkan.
@ Pondok Pesantren Hubbul Khoir Sukoharjo
Penulis: Dr. Abu Zakariya Sutrisno
Join Grup Whatsapp: Join Now
Artikel Abuzakariyasutrisno.com






